Kilas Balik
by
tamasja
- Maret 23, 2026
MASIH ingatkah kamu dengan foto ini, Hana? Benar, ia adalah rumah kontrakan kita yang lama. Kita tinggal satu tahun di sana, di desa Ajung kecamatan Kalisat, sejak 20 April 2015. Rumah yang sepi, hanya ada satu tetangga terdekat yaitu keluarga Babo. Belakang kandang ayam, depan sembilan petak sawah, samping kiri kebun melati, samping kanan pemakaman umum. Sungguh sebuah pengalaman luar biasa tinggal di sana, dengan orang-orangnya yang beraneka ragam karakter.
Kita disambut musik hadrah, kali pertama waktu penyambutan sebagai warga baru dan kali kedua waktu kita mau pindah. Semacam lepas pisah. Bergeser ke Lorstkal. Kata Ibu-ibu pengajian, itu ide Mas Bajil.
Kamu selalu sehat di Kalisat. Itu yang paling penting.
Kita tentu punya cita-cita yang wajar, yaitu ingin belajar omah-omah. Ingin merasakan peristiwa ikut pengajian, pagi belanja ke pasar tradisional, takziyah bila ada berita duka, mendaftarkan diri ke rukun kematian di lingkungan yang kita tinggali, bertetangga, ikut kerja bakti, sore duduk leyeh-leyeh di ruang tamu, dan segala hal yang berbau rumah tangga lainnya.
Teman-teman di kota bilang kita terburu-buru pindah rumah. Padahal tidak juga. Kita berkenalan dengan 'Kalisat' sejak 2013. Aku dan kamu terpaksa meninggalkan kolektif yang kita bangun sejak 21 Juni 2008, Rumah Karya Panaongan, justru ketika kolektif itu sedang solid di usianya yang ke-7 tahun. Lalu kita seolah saling bersepakat untuk tidak membicarakan panaongan di Kalisat. Ia adalah kenangan indah tersendiri di sudut hati kami. Orang-orang seperti Indana Putri Ramadhani dan adik-adik kecil di lingkungan Patrang, tentu saja mereka tak tergantikan.
Hana, rencana kita untuk hidup wajar seperti orang-orang pada umumnya adalah mimpi yang mesra. Tak ada impian yang lebih aduhai dari itu. Itulah rencana kita, dan Tuhan punya maksud lain. Maka diperkenalkanlah kita pada muda-mudi Kalisat yang lucu-lucu itu. Lalu jalannya takdir pun bekerja secara pelan. Tiba-tiba kita sudah sampai di sini. Melihat sebuah tongkrongan anak-anak muda yang penuh semangat, Sudut Kalisat. Kita bersyukur dengan keadaan ini.
"Yeay, kita punya keluarga besar."
Entah mengapa hari ini aku memikirkannya, dan tak henti aku bersyukur.
Terima kasih Tuhan.
